Mindfulness : 03 Melatih Diri Untuk Tenang
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillaahil-ladzii bini’matihi tatimmush-saalihaat. Senang sekali diberi waktu luang. Semoga tulisan ini dapat menjadi berkah untuk kita semua ya, Aamiin. Sebelumnya lagi-lagi saya ingin memberi disclaimer, bahwa saya bukan expert dibidang ini. Namun, ini hasil aplikasi dari beberapa teori yang saya baca.
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan untuk mencapai mindfulness. Jujur... untuk mencapainya butuh waktu. Tidak seinstan memejamkan mata lalu inhale-exhale. Tidak.. tidak sesederhana itu. Mungkin orang lain punya cara yang lebih mudah.. ya silakan, hanya saja inilah cara yang saya lakukan, dan paling berhasil bagi saya. Totally work.
1. Berjemur di Pagi Hari
Mulai dari bangun di pagi hari dengan udara yang masih sejuk. Ditambah kesegaran yang timbul dari embun pagi dan tanaman yang baru saja disiram. Seperti yang sudah saya posting sebelumnya, bahwa berjemur dapat membantu melepaskan hormon serotonin. Tentunya diri akan jadi jauh lebih semangat dan bahagia. Di momen ini, saya sengaja memanfaatkan untuk me-time. Karena setelah ini akan disibukkan dengan tugas negara hiihihi.
2. Tugas Negara
Baaaaaanyak sekali yang keberatan dengan pekerjaan rumah. Mulai dari membuka mata hingga menutup mata adalah makanan harian. Saya pun setuju kalau ada masa-masa semangat dan akan ada juga masa-masa malas. Mungkin awalnya pekerjaan ini terasa berat dan sangat membosankan. Tapi tahukah kalau melakukan pekerjaan rumahan itu bisa mencegah penyakit Alzheimer?
Dilansir dari media HiMedik, bahwa penyakit Alzheimer (kepikunan) itu dapat memicu penyakit Demensia (gangguan otak yang dapat menghancurkan memori dan kemampuan berpikir). Penyakit ini umumnya memang diderita oleh mereka yang memasuki usia senja. Tapi tidak menutup kemungkinan di usia produktif juga bisa terjadi.
Contohnya pekerjaan apa saja sih ?
a. Memasak
b. Mencuci piring
c. Berkebun
Setelah saya praktekan, ternyata memang benar, saya merasa lebih calming. Dan saya merasa 'hadir' di saat saya sedang beres-beres rumah. Akhirnya saya pun menyadari hikmah dari keutamaan bagi muslimah yang berada di dalam rumahnya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).
Adalah benar bahwa fitrah muslimah yaitu di rumahnya. Rasa nyaman itu hadir kala kita membuat rumah yang kita tempati, betul-betul kita jadikan rumah. Sebaik-baiknya, seindah-indah pandangan. Hati jadi lebih lapang, lebih ringan, dan tentunya lebih bahagia.
Ada satu hal yang menggelitik, dikutip dari Muslim.or.id, oleh dr.Adika Mianoki, Para wanita muslimah hendaknya jangan tertipu dengan teriakan orang-orang yang menggembar-gemborkan isu kesetaraan gender sehingga timbul rasa minder terhadap wanita-wanita karir dan merasa rendah diri dengan menganggur di rumah. Padahal banyak pekerjaan mulia yang bisa dilakukan di rumah.
Saya sangat setuju. Karena saya tidak percaya pada, "Seringnya kita para muslimah berada diluar akan membuat happy dan menenangkan hati". Saya yakin, begitu seorang muslimah menyelami bahwa rumah adalah senyaman-nyamannya tempat, akan sangat berat meninggalkannya. Terkecuali untuk urusan yang betul-betul urgent. Apalagi memang situasinya mengaharuskan seorang muslimah untuk bekerja diluar rumah.
Mager tidak pernah ada dalam kamus seorang muslimah yang terbiasa peroduktif meski hanya di rumah. Tapi karena rumah adalah fitrahnya muslimah, jadi begitulah memang nilai rumah di hati para muslimah, sangat berarti. Tampaknya memang seperti tidak ada kerjaan. Tapi justru 24/7 pekerjaan tidak ada habisnya :) Tampaknya memang tidak classy, tapi itu hanya menurut pandangan manusia.
3. 'Hadir' di Tiap Ibadah
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
Artinya : "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd : 28)
Saya juga yakin, seringkali hati menginginkan khusyuk tapi lagi-lagi terjadi... pikiran dan hati dibawa kabur kemana-mana. Memang kerjaannya syaiton ya begitu.
Misalnya..
"Tadi kompor udah mati belum ya?"
"Uang sisa berapa deh?"
"Jam berapa nih belum abcdll"
DAAAAN lain sebagainya :") sama... saya pun masih sangat-sangat berjuang huhu. Penyakitnya perempuan :")
Meski begitu, bukan berarti kita jadi pasrah dan membiarkannya terus menerus kan?
Karena.. di momen inilah, kita bisa melatih diri untuk tenang agar bisa mencapai mindfulness tadi. Meresapi tiap bacaan yang kita ucapkan, merasakan nyaman yang tidak ada bandingannya, berusaha untuk merasakan bahwa Allah sedang betul-betul dekat dengan kita. Hhhh... setenang itu.. senyaman itu... misalnya saat sedang sujud, sangat real hadits berikut :
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا
“Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482)
Faktanya, ketika seseorang sedang bersujud, dapat melancarkan alirah darah dan oksigen untuk masuk ke otak. Sehingga, peredaran darah dan pernapasan menjadi lancar.
Baiklah, mungkin hanya itu yang bisa saya bagikan. Sekian, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bishowab. Barakallahu fiikum.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh.
_______________
Referensi :
1. HiMedik | 3 Pekerjaan Rumah Ini Bisa Bantu Atasi dan Cegah Demensia - HiMedik.com
2. Muslim.or.id | https://muslim.or.id/9164-pahala-melimpah-bagi-muslimah-yang-tinggal-di-rumah.html
Komentar