Mindfulness : 05 Tolonglah Orang Lain Agar Kau Senantiasa Bahagia
![]() |
| Ilustrasi : Photo by Min An from Pexels |
Kami pun menuju rumah via Tegal, sebuah Kabupaten di provinsi Jawa Tengah yang berasal dari kata "Tetegal" yang artinya tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian atau sumber lain menyatakan "Teteguall" pemberian dari seorang pedagang asal Portugis, Tomi Pires.
Benar adanya, Kabupaten Tegal ini luas sekali area perkebunannya. Saking luasnya, saya yang bukan asli daerah sana tiap kali menghindari jalan yang sedang ada perbaikan atau karena macet selalu kesasar. Menggunakan GPS seperti tidak ada gunanya. Karena seringkali sinyal hilang, kadang juga begitu dapat diarahkan ke daerah yang betul-betul kanan-kiri perkebunan. Entah bagaimana saya juga bingung susah sekali dapat sinyal GPS disana.
"Pingin bakso," kata Adik saya tiba-tiba.
"Iya nanti ya sambil jalan cari bakso," ujar Ibu saya.
Selang berapa menit, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba Adik bungsu saya berkata, "Yah... nggak macet ya, jadi nggak bisa berhenti buat foto."
Sontak saya pun menanggapi, "Ya bagus dong, bisa cepet sampai rumah."
Suasana siang itu memang bagus sekali, tidak panas dan tidak hujan juga. Adem lah bahasanya. Nikmat sekali udaranya, kanan kiri pepohonan, bukit dan perkebunan nanas madu. Ibu saya pun akhirnya tergoda untuk membeli nanas tersebut. Harganya murah sekali, seplastik yang sudah di kupas itu hanya Rp 5.000,00. Sambil menikmati pemandangan dari luar jendela, saya dan keluarga menikmati nanas madu tersebut. Sudah murah, enak lagi.
Angin berhembus agak kencang saat sebuah mobil menyalip kami. Saya tak sengaja mendengar, "Ban.. ban !" Kami pun segera menepi. Tanpa saya sadari, ternyata kaca sebelah saya sudah terbuka sedikit sejak memasuki lahan perkebunan yang begitu luas itu.
Begitu di cek, ternyata ban sebelah saya persis bocor. Bahkan ia sudah bergeser dari ringnya. Betapa terkejutnya kami semua. Sudah ditengah perkebunan, dikelilingi bukit pula. Untung saja cuacanya bersahabat dan masih siang. Tidak terbayangkan kalau hujan atau sudah malam. Perasaan saya was-was saat itu. Takut kalau ada orang jahat yang mau merampok kami secara tiba-tiba. Kalau saja Allah tidak menggerakkan tangan saya untuk membuka jendela sedikit saat itu, mungkin kami tidak akan mendengar teguran dari pengendara tersebut. Dan kami tidak tahu apakah masih selamat atau tidak.
Setelah segitiga pengaman dipasang, mobil pun segera di dongkrak. Tak lama ada tukang bakso motor lewat. Ia dengan senyum ramahnya bertanya pada Ayah saya, "Kenapa pak, bannya bocor pak?"
"Iya pak bocor, tapi ada ban serepnya kok," kata Ayah saya sembari berusaha mendongkrak.
Kebetulan Adik saya yang laki-laki saat itu memang tidak ikut. Jadi, Ayah saya sendirian. Kasihan sebetulnya, cuma saya juga tidak bisa membantu. Sedangkan Ibu saya menunggu di seberang jalan di warung kecil yang hanya menjual nanas dan Adik saya duduk di depan mobil. Sisanya saya stay dibelakang sambil nunggu siapa tahu beliau minta bantuan. Tepat sekali, saya feeling, sepertinya Ayah saya sudah kecapean nih dongkrak mobil nggak naik-naik. Maklum Ayah saya nggak ngerti ngebengkel hehehe.
Saya pun menawari, "Mau panggil orang bengkel aja nggak, Pah?" sembari mengunjukki nomor bengkel dari Google maps. "Boleh deh," kata Ayah saya sembari mengetikkan nomor di ponselnya. Eh... tiba-tiba tukang bakso tadi kembali lagi. Padahal Ayah saya sudah nggak jadi telpon karena lokasi bengkelnya 4 Km dari sini dan mau menghampiri bengkel motor yang tidak jauh di depan sana.
Sama! perasaan saya masih was-was. Meskipun tampaknya Bapak tukang bakso ini ramah sekali, tetap saja saya takut kalau itu hanya tipuan. Negatif thinking saya menyala-nyala. Saya iseng melirik, Ohh.. aman nggak ada benda tajam, celananya digulung, nggak ada HT. Pikiran usil saya masih saja mencari hal-hal yang tidak perlu saat temannya yang sama-sama tukang bakso tiba-tiba juga berhenti dan membantu. Lagian Ayah saya kenapa ya mudah sekali percaya sama orang... ckckck.
Singkat cerita, setelah ban serep terpasang, Bapak tukang bakso yang terakhir keburu pergi. Kemudian Ayah saya memberikan sedikit uang terima kasih untuk Bapak tukang bakso pertama yang awalnya menolak. Dengan wajah sumringah, akhirnya beliau mau menerima. Bapak itu baik sekali ternyata, awalnya saya sudah berpikir yang tidak-tidak. Tapi ternyata, dikasih uang saja sempat menolak. Yah.. intinya tidak semua orang jahat, meskipun bertemunya di tengah luasnya perkebunan.
Selepas Bapak tukang bakso itu pergi, saya baru teringat tentang adik saya yang kepingin sekali bakso dari awal perjalanan. Doa Adik saya dua-duanya langsung diijabah. Eh ya benar, benar-benar ketemu baksonya, tapi lupa nggak makan karena sudah pusing dengan ban bocor. Dan benar, kita juga berhenti di jalan buat mengamati panorama alam yang Masya Allah... luar biasa. Sayangnya saking saya menikmati kesejukkannya saya juga lupa mengabadikan.
Bapak itu kembali mengingatkan saya dengan seseorang yang saya kenal sejak pertengahan tahun 2014. Ia juga ramah, tutur kata dan perilakunya sopan tidak hanya kepada orangtua bahkan kepada saya yang sebaya juga anak kecil serta suka sekali menolong orang yang sedang kesusahan tanpa pandang bulu. Orang Jawa bilang sifatnya sangat welas asih. Ia juga mirip sekali dengan Ayah saya, sama-sama mudah simpati dengan orang, dipikirnya semua orang itu baik kok. Tapi sudah baik begitu masih saja sering di hujat dari belakang. Mungkin itu kali ya, kenapa dari wajah mereka bisa begitu menyenangkan, karena suka menolong, pikirannya positif dan memilih untuk tidak peduli omongan orang lain. Kalau akhirnya di jahati, ya sudah diterima saja, hitung-hitung penghapus dosa. Ckckck, bikin saya geleng-geleng nggak habis pikir.
----oOo----
Saya pun belajar hal baru,
Kadangkala, mungkin kita harus melewati suatu jalan atau suatu aktivitas yang sebenarnya tidak kita inginkan. Tapi ternyata, mungkin Allah sedang menugaskan kita untuk mengantarkan rezeki kepada orang lain yang doanya begitu serius hingga mengetuk pintu langit.
Jadilah kita bertemu di tempat dan cara yang tidak terduga.
----oOo----
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya,
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
(QS. Ath-Thalaq : 2-3)
Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tegal#:~:text=14%20Pranala%20luar-,Sejarah,Tegal%20pada%20tahun%201500%E2%80%93an.
https://tafsirweb.com/37029-surat-ath-thalaq-ayat-2-3.html

Komentar