Mindfulness : 06 Memaafkan
![]() |
| Photo by Nick Fewings on Unsplash |
Suatu hal yang ringan dibaca, namun ternyata sulit diaplikasikan.
Hidup ini rasanya semakin berat saja jika harus menampung satu persatu peristiwa tak termaafkan. Entah itu karena kesalahan saya ataupun kesalahan orang-orang di sekitar terhadap saya. Rasanya hati ini tidak cukup lagi menampung itu semua. Saya pikir dengan menyimpannya rapat-rapat semua akan hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak. Semua itu justru semakin menumpuk seperti tumpukan sampah tak berarti yang dengan sengaja saya 'simpan'.
Mungkin bukan hanya saya yang melakukan kekonyolan ini, mungkin anda, atau kita semua memang selalu melakukannya. Dengan alasan... yang penting tidak diulangi, tidak bertemu dengan orang yang bersangkutan atau apapun bentuknya. Tapi, ternyata itu semua, tidak bisa dengan begitu saja membuat hati jadi tenang.
Saya khususnya, seperti orang sedang melarikan diri memboyong sampah (?) Padahal itu semua sudah berada di masalalu. Apa anda juga merasakan hal yang sama?
Setelah saya pikir-pikir, jika selamanya seperti ini tentu tidak akan baik kedepannya. Mungkin di kehidupan saya sepuluh.. atau dua puluh tahun yang akan datang (jika masih beri umur oleh Allah) akan semakin menimbun peristiwa tak termaafkan itu. Di tahun 2022 ini saja sudah sangat berat. Bagaimana jika terus-menerus seperti itu. Tak bisa saya bayangkan betapa banyak penyakit yang akan saya tanggung. Hanya karena ego saya, yang sebetulnya tidak bisa memaafkan.
---oOo---
Teringatlah saya pada sebuah pemahaman. Bahwa, "Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai". Jika kita menimbun hal negatif, tentu kita juga akan menarik hal-hal negatif lainnya, alhasil dikemudian hari kita akan memanen hasil yang negatif-negatif. Semakin banyak hal negatif yang kita simpan, maka semakin banyak pula hal negatif akan bersarang di tubuh kita. Tentu hal itu menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Dan begitu pula sebaliknya.
Saya pun mulai belajar sedikit-demi sedikit memaafkan diri saya, diri saya di masalalu maupun kesalahan yang baru saja saya lakukan. Kemudian pelan-pelan memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti, mengkhianati, membohongi saya dan lain sebagainya. Saya akui bagian ini adalah hal yang sulit. Tapi, demi kesehatan saya dimasa mendatang, saya harus melakukannya. Membuang memori buruk yang pernah menimpa saya, yang ternyata itu menjadi benalu selama ini.
Sekarang tersisa rasa terima kasih. Terima kasih karena semua memori itu, saya bisa tumbuh, meskipun seperti koyak disana-sini. Penuh perban hampir di segala sisi. Terima kasih karena semua memori itu, saya bisa belajar dan lebih menerima, bahwa menjadi dewasa memang harus mengalami banyak peristiwa yang menyakitkan. Agar lebih tenang dalam menapaki kehidupan kini dan nanti.
---oOo---
Sekarang semua jadi jauh lebih ringan. Begitu melihat kilas balik masalalu, saya sudah bisa tersenyum lebar. Tidak seperti dulu yang kadang masih ada sedikit rasa pahit yang begitu mencekik. Sekarang saya mulai bisa dengan tangan terbuka menerima, bahwa siapapun akan datang dengan paket yang seperti saya. Tidak sempurna, memiliki luka dan bahagianya tersendiri. Tidak lagi idealis harus yang begini-begitu. Karena semua orang memiliki latar belakangnya masing-masing. Pun cara mereka bertahan hidup dari terpaan masalah ini-itu dan mengembalikan kepercayaan diri juga bervariasi.
Bagi saya, sekarang semuanya tampak lebih damai. Langkah saya pun menjadi ringan dan pandangan saya juga jauh lebih teduh. Seakan ada hal besar yang sedang dipersiapkan Allah untuk saya emban.

Komentar